RSS

Arsip Kategori: public relations

Public Relations and Marketing

Public Relations

Public relations has a particular area of expertise and is needed in all organisations. It works with along inside other professions to help handle an organisation’s communication needs. It’s important to understand how the other professional think, how their proffesions work, what they can achieve and how publicbrelations can best operate in association with them.

The main goal of a public relations department is to enhance a company’s reputation. Staff that work in public relations, or as it is commonly known, PR, are skilled publicists. They are able to present a company or individual to the world in the best light. The role of a public relations department can be seen as a reputation protector.

Public relations provide a service for the company by helping to give the public and the media a better understanding of how the company works. Within a company, public relations can also come under the title of public information or customer relations. These departments assist customers if they have any problems with the company. They are usually the most helpful departments, as they exist to show the company at their best.

PR also helps the company to achieve its full potential. They provide feedback to the company from the public. This usually takes the form of research regarding what areas the public is most happy and unhappy with.

People often have the perception of public relations as a group of people who spin everything. Spin can mean to turn around a bad situation to the company’s advantage. It is true that part of the purpose of public relations is to show the company in a positive light no matter what. There are certain PR experts that a company can turn to for this particular skill.

The public often think of PR as a glamorous job. Public relations people seem to have been tarred with the image of constant partying and networking to find new contacts. The reality is usually long hours and hard work for anyone involved in public

“Public relations helps an organization and its publics

adapt mutually to each other.”

Marketing

Marketing is defined as The management process responsible for identyfing, anticipating, and satisfying customer requirements profitably. British Chartered institute Of Marketing.

Marketing is the process whereby society, to supply its consumption needs, evolves distributive systems composed of participants, who, interacting under constraints – technical (economic) and ethical (social) – create the transactions or flows which resolve market separations and result in exchange and consumption. Bartles.

The key point of Marketing :

* Management : Marketing is a management process. It has a management responsibility for one whole function of an organisation.

* Identification : Customer and their needs have to be identified so that product offers can be constructed to meet those needs

* Anticipation : marketing works to the future. the need is to identifi what will be needed in time for the product offer to be constructed.

* Satisfaction : the actual identified needs have to be satisfied

* Profitability : Marketing is the business of making a profit.

Sources:

http://www.marketingteacher.com/lesson-s…

http://www.wisegeek.com/what-is-public-r…

http://www.prsa.org/AboutPRSA/PublicRela…

http://www.merriam-webster.com/dictionar…

How to Pass Public Relations, Third Level, 1999 ( buku pribadi)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16/05/2011 in opini saya, public relations

 

Perspektif Dasar Public Relations (1)

Beberapa Pandangan Tentang Public Relations

Humas atau Public Relations akan sangat dipengaruhi faktor-faktor lingkungan dimana Public Relations itu dipraktekkan.

Edward L. Berneys dalam buku Public Relations menyatakan PR memiliki tiga macam arti:

  1. memberi informasi kepada masyarakat
  2. persuasi yang dimaksudkan untuk mengubah sikap dan tingkah laku masyarakat terhadap lembaga demi kepentingan kedua belah pihak
  3. usaha untuk mengintegrasikan sikap dan perbuatan antar lembaga dengan sikap perbuatan masyarakat dan sebaliknya.

Melvin Sharpe (dalam Kasali, 2005: 8-9) menyebut lima prinsip hubungan harmonis:

  1. komunikasi yang jujur untuk memperoleh kredibilitas
  2. keterbukaan dan konsistensi terhadap langkah-langkah yang diambil untuk memperoleh keyakinan orang lain
  3. langkah-langkah yang fair untuk mendapatkan hubungan timbal balik dan goodwill
  4. komunikasi dua arah yang terus menerus untuk mencegah keterasingan dan untuk membangun hubungan
  5. evaluasi dan riset terhadap lingkungan untuk menentukan langkah atau penyesuaian yang dibutuhkan masyarakat.

Empat Unsur Falsafah PR (Rumanti, 2002):

  1. PR sebagai upaya mempengaruhi kemauan individu, golongan, atau masyarakat yang menjadi sasaran dengan maksud mengubah pikiran, pendapat publik secara umum oleh pemerintah
  2. PR ditujukan untuk mendorong atau memajukan usaha-usaha bidang ekonomi. Falsafah ini dipakai oleh badan usaha ekonomi yang mencari keuntungan
  3. PR dengan menggunakan pengetahuan yang luas dan bijaksana bisa dipergunakan dalam pencapaian tujuan
  4. Misi PR yang perlu disampaikan kepada masyarakat diintegrasikan dengan kebutuhan publik.

Gambaran Profesi Public Relations

PR merupakan suatu profesi yang menghubungkan antara lembaga atau organisasi dengan publiknya yang ikut menentukan kelangsungan hidup lembaga tersebut. Karena itu PR berfungsi menumbuhkan hubungan baik antara segenap komponen, memberikan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi. PR pada dasarnya menciptakan kerjasama berdasarkan hubungan baik dengan publik. Dalam PR dibedakan dua macam publik yang menjadi sasaran yakni publik internal dan eksternal.

Menurut Dozier (1992) peranan praktisi humas dalam organisasi  merupakan  salah satu kunci penting  untuk  pemahaman akan fungsi  public  relations dan  komunikasi  organisasi disamping sebagai sarana pengembangan   pencapaian   profesionalitas  dari   praktisi   humas.

Secara sederhana tugas praktisi kehumasan adalah menjadi penghubung antara lembaga publik dengan masyarakat luas, agar tercapai saling pengertian, kerjasama dan sinergi yang positif antara berbagai pihak yang ada.  Dalam konteks lembaga lembaga publik seperti pemerintah, sejatinya peran melayani dan mengembangkan dukungan publik guna mencapai tujuan organisasi-lah yang sangat penting dimainkan oleh praktisi kehumasan.

Pada konteks ini, maka praktisi humas harus bisa membentuk nilai-nilai, pemahaman, sikap-sikap, sampai perilaku dari publik agar sejalan dengan kebutuhan organisasi. Melalui pengemasan pesan-pesan komunikasi  publik yang lebih banyak berisikan tentang apa dan siapa serta apa manfaat keberadaan organisasi. Pesan-pesan ini dapat dikomunikasikan melalui media massa atau media lain yang dipilih sesuai dengan target sasaran.

Bahan Bacaan :
Abdurrachman, Oemi. 1993. Dasar-dasar Public Relations. Bandung: Citra Aditya Bakti
Effendy, Onong Uchjana. 1999.  Hubungan  Masyarakat.  Suatu   Study  Komunikologis. Cetakan ke lima. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Jefkins, Frank dan Daniel Yadin. 1996. Public Relations. Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga
Kasali, Rhenald. 2005. Manajemen Public Relations. Jakarta: Grafiti
Moore, Frazier. 2004. Humas, Membangun Citra dengan Komunikasi. Bandung: Rosda.
Rachmadi. F. 1994. Public Relations dalam Teori dan Praktek. Jakarta: Gramedia
Rumanti, Maria Assumpta. 2002. Dasar-dasar Public Relations: Teori dan Praktek.  Jakarta: Gramedia Widiasarana
Soemirat. Soleh dan Elvinaro Ardianto. 2003. Dasar-dasar Public Relations. Bandung: Remaja Rosda Karya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27/05/2010 in public relations

 

Undangan Menghadiri Seminar Nasional “Nation Branding” Persembahan DKV Binus University-Jakarta

Hari: Rabu, 11 November 2009.

Waktu: 14.00 WIB.

Tempat: The Cone f7 – Gedung Fx Lifestyle X’nter, Senayan, Jakarta.

Pembicara:

1. Keynote speech:

Dr. Marie Elka Pangestu, (Menteri Perdagangan RI)

“National Strategy and Policy on Indonesia’s Nation Branding”

2. Rizaldi Siagian, MA, (Etnomusikolog)

“Local Value: An Empowerment for Nation Branding”

3. Daniel Surya, (Country Director-The Brand Union)

“Branding Agencies and Local Value of Indonesia’s Nation Branding”

4. Dr. Ermiel Thabrani (Communication and PR Expert)

“Nation Branding: Image and Reputation Management”

KHUSUS BAGI KOMUNITAS DGI (DESAIN GRAFIS INDONESIA) DISEDIAKAN 50 (LIMA PULUH) BUAH KURSI (GRATIS!), SILAKAN SEGERA MENDAFTARKAN DIRI KE PANITIA DENGAN MENYEBUTKAN DARI KOMUNITAS DGI.

 

My Name’s Sally, and My Brand isn’t Built Mediocrily

Kesuksesan sebuah bisnis, nyata banyak menggoda entitas bisnis lain untuk meniru. Kita menemukan banyak produk me too yang bisa lebih booming dibandingkan dengan produk “original”nya. Dengan pemahaman ini, Sour Sally mencoba fokus pada karakter, story, ikon, dan memperkuat brand equitynya, sebagai sebuah strategi diferensiasi—agar tidak mudah melahirkan me too.

Kolonel Harland Sanders, sudah meninggal dunia 29 tahun lalu. Sanders, dengan janggut putih dan senyum ramah, adalah sosok ikonik bagi KFC yang didirikannya setelah ia sukses melakukan usaha negosiasi dengan restoran yang ke-100, dimana dari sinilah jaringan waralaba KFC berawal.

Namun, Sanders bukanlah Sally. Sally adalah gadis berusia 14 tahun, dengan rambut dikuncir dua, dan senang memakai kaus kaki belang-belang. “Orangtua”nya memberi nama Sally karena nama itu mudah diingat, dan ear catching. “Nama itu terkesan cute,” kata Marcus Kandou, Marcomm & PR Director PT Berjaya Sally Ceria, prinsipal outlet Sour Sally.

“Kami memang sangat mendetail pada konsep branding,” aku Marcus. Nama brand, lanjut Marcus, sangat penting untuk brand equity dan karakter brand agar tidak mudah ditiru—terutama di dunia retail yang rentan me too. Dus, karakter Sally juga diimplementasikan pada desain interior pada gerainya, seolah kamar seorang gadis yang girly, dengan warna dominan hijau dan pink yang terkesan welcoming. Di ‘kamar’ ini, kaki kursi juga hitam putih, seperti kaus kaki Sally. “Brand yang sukses adalah gabungan dari produk yang berkualitas dan kejelian menjaga equitas mereknya,” tambah Marcus.

Ketika Sally “diputuskan” bergender perempuan, menurut Marcus adalah karena biasanya yang health conscious itu adalah perempuan. “Target market awal kami adalah segmen AB, cewek usia belasan sampai 24, dari yang sekolah, sampai kuliah,” jelas Marcus. Namun, pada kenyataannya Sour Sally banyak digemari kalangan lain, seperti ibu-ibu, sampai eksekutif muda. “Yang penting kami fokus pada target market dulu,” tambah Marcus.

Upaya melahirkan Sally yang berkarakter ini, aku Marcus telah menyedot proporsi budget terbesar—bekerja sama dengan sebuah branding agency dari Singapura. Tampak sebuah niat keras untuk tidak menciptakan sebuah brand yang semenjana. “Once you think, think big,” tegas Marcus.

Sour Sally yang menjelma situs animasi “Sally in Yogurthy Land” dengan dukungan musik riang (melodinya membawa ambience taman bermain), adalah wujud dari keseriusan strategi brand yang didirikan oleh Donny Pramono ini. Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa rumah Sally di jagad maya terpilih sebagai Favorite Website Award (FWA) bulan September 2008, sebuah ajang yang disponsori oleh Adobe—dengan voters dari seluruh dunia. “Saat itu fans Sally di Indonesia masih sedikit,” tambah Marcus. Content website ini, lanjut Marcus, masih akan dikembangkan, misalnya melalui penambahan games.

Yang juga penting adalah penyampaian komunikasi Sally yang mengambil konsep terintegrasi—terjalin melalui relasi dengan media, ataupun pemberdayaan social network yang marak belakangan ini, serta PR-ing. “Selain karena faktor media, kami memang sangat terbantu oleh adanya situs jejaring sosial yang membantu menciptakan komunikasi dua arah,” tutur Marcus.

Komunikasi inilah kata Marcus yang kemudian membuat Sour Sally menjadi talk of the town—bahkan di beberapa outlet bisa terjadi antrian. Seseorang dengan user name “masasih” menulis kesan berikut di Detik Forum: “Ada yang perhatiin ga sih sekarang orang-orang lagi hobby banget beli sour sally sampe rela ngantri panjang banget di mall-mall gitu? Padahal sebenarnya kalau yang sejenis sour sally itu sama aja sama yogen fruz ato yoghurt yang newzealand.” Euforia terhadap Sour Sally ini bahkan pernah dimanfaatkan oleh Sony Pictures International yang menggaet mitra lokal untuk mensponsori launching film Pink Panther Februari 2008.

Keputusan untuk memanfaatkan ruang di jagad maya, juga didorong oleh kejelian Sally melihat kebiasaan target market produk olahan yoghurt ini. “Target market kami senang hang out ke kafe, sangat fashionable, dan gadget conscious,” kata Marcus. Oleh karena itu, lanjut Marcus, promosi menggunakan situs seperti Facebook atau Twitter menjadi lebih ber-impact. “Intinya strategi marketing communication-nya harus lebih kreatif, apalagi kami belum ada budget untuk beriklan,” tambah Marcus.

Namun, Marcus mengakui bahwa ada elemen lain yang harus turut diperkuat yaitu visibility. “Pada tahap introduksi, eksistensi dan konsistensi gerai sangat penting,” kata Marcus. Oleh karena itulah, sampai usianya yang beberapa bulan lebih dari satu tahun ini—kamar pertama Sally dikunjungi pada 15 Mei 2008 di Senayan City, Sour Sally sudah memiliki lebih dari 10 gerai—semuanya di mal.

Kini, Sally semakin tumbuh dan berkembang—beberapa media menyebut Sour Sally sebagai “Phenomenal Rising Star”. Konon rahasianya adalah memperlakukan brand seolah bayi. “Kami harus tunjukkan sisi orangtua, dengan memberi gizi, membesarkan, dan memberi “teman-teman bermain” yang tepat,” ujar Marcus. Sally kian tersenyum lebar karena orangtuanya telah memilihkan “teman” seperti X2 club, MRA Printed media, Blitz Megaplex, dan sebuah fitnes center dalam proses penjajagan menjadi mitra kolaborasi. “Bentuk kerjasamanya adalah cross benefit antar member, jadi kami sekaligus bisa meng-grab komunitas yang suka nonton, baca sampai dugem,” jelas Marcus yang juga sedang mempersiapkan acara khusus bagi para fans gadis bernama Sally ini.

 

Sukses Membentuk Kepribadian Brand Sour Sally

Elemen terpenting dalam brand building Sour Sally adalah suasana di outletnya yang segar dan karakternya yang agak unik. Strategi dengan membuat karakter, ikon, dan lain-lain saya rasa sudah tepat, karena telah membuat Sour Sally memiliki diferensiasi, dan berhasil membentuk kepribadian brandnya melalui seorang gadis kecil dengan kaus kaki belang-belang yang khas.

Sementara itu, keuntungan dari segi visibility dengan banyaknya gerai di mana-mana adalah penguatan. Konsumen seperti diingatkan dan ditarik oleh keberadaan outletnya. Meski saya belum banyak memperhatikan aktivitas Sally, melihat situasi outlet tersebut dan juga websitenya, saya pikir brand guidelines Sour Sally sudah cukup konsisten, dan pesan brand-nya lumayan dapat ditangkap dengan jelas oleh target marketnya.

Selain itu, Sour Sally sendiri adalah brand yang relatif baru sehingga masih perlu mengadakan kerjasama dengan brand lain untuk memperluas penetrasi di pasar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk bisnis seperti ini adalah faktor trend sesaat dan entry barrier yang relatif kecil. Konsumen lokal dikenal latah dan senang dengan hal-hal baru.

Entry barrier kecil artinya pihak lain juga dapat masuk ke bisnis ini karena bahan bakunya umum dan tidak memiliki resep rahasia yang signifikan. Otomatis tingkat kompetisi akan menjadi semakin keras begitu pihak lain mulai banyak yang bermain karena melihat response konsumen yang tinggi. Melalui kerjasama dengan brand lain, tentunya dapat muncul program-program baru secara berkesinambungan

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 02/11/2009 in public relations

 

Komunikasi Politik

// <![CDATA[//

Secara sederhana, komunikasi politik (political communication) adalah komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik, atau berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan, dan kebijakan pemerintah. Dengan pengertian ini, sebagai sebuah ilmu terapan, komunikasi politik bukanlah hal yang baru. Komunikasi politik juga bisa dipahami sebagai komunikasi antara ”yang memerintah” dan ”yang diperintah”.
Mengkomunikasikan politik tanpa aksi politik yang kongkret sebenarnya telah dilakukan oleh siapa saja: mahasiswa, dosen, tukang ojek, penjaga warung, dan seterusnya. Tak heran jika ada yang menjuluki Komunikasi Politik sebagai neologisme, yakni ilmu yang sebenarnya tak lebih dari istilah belaka.
Dalam praktiknya, komunikasi politik sangat kental dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, dalam aktivitas sehari-hari, tidak satu pun manusia tidak berkomunikasi, dan kadang-kadang sudah terjebak dalam analisis dan kajian komunikasi politik. Berbagai penilaian dan analisis orang awam berkomentar sosal kenaikan BBM, ini merupakan contoh kekentalan komunikasi politik. Sebab, sikap pemerintah untuk menaikkan BBM sudah melalui proses komunikasi politik dengan mendapat persetujuan DPR.

Gabriel Almond (1960): komunikasi politik adalah salah satu fungsi yang selalu ada dalam setiap sistem politik. “All of the functions performed in the political system, political socialization and recruitment, interest articulation, interest aggregation, rule making, rule application, and rule adjudication,are performed by means of communication.”
Komunikasi politik merupakan proses penyampaian pesan-pesan yang terjadi pada saat keenam fungsi lainnya itu dijalankan. Hal ini berarti bahwa fungsi komunikasi politik terdapat secara inherent di dalam setiap fungsi sistem politik.
· Process by which a nation’s leadership, media, and citizenry exchange and confer meaning upon messages that relate to the conduct of public policy. (Perloff).
· Communication (activity) considered political by virtue of its consequences (actual or potential) which regulate human conduct under the condition of conflict (Dan Nimmo). Kegiatan komunikasi yang dianggap komunikasi politik berdasarkan konsekuensinya (aktual maupun potensial) yang mengatur perbuatan manusia dalam kondisi konflik. Cakupan: komunikator (politisi, profesional, aktivis), pesan, persuasi, media, khalayak, dan akibat.
· Communicatory activity considered political by virtue of its consequences, actual, and potential, that it has for the funcioning of political systems (Fagen, 1966).
· Political communication refers to any exchange of symbols or messages that to a significant extent have been shaped by or have consequences for the political system (Meadow, 1980).
· Komunikasi politik merupakan salah satu fungsi partai politik, yakni menyalurkan aneka ragam pendapat dan aspirasi masyarakat dan mengaturnya sedemikian rupa –“penggabungan kepentingan” (interest aggregation” dan “perumusan kepentingan” (interest articulation) untuk diperjuangkan menjadi public policy. (Miriam Budiardjo).
· Jack Plano dkk. Kamus Analisa Politik: penyebaran aksi, makna, atau pesan yang bersangkutan dengan fungsi suatu sistem politik, melibatkan unsur-unsur komunikasi seperti komunikator, pesan, dan lainnya. Kebanyakan komunikasi politik merupakan lapangan wewenang lembaga-lembaga khusus, seperti media massa, badan informasi pemerintah, atau parpol. Namun demikian, komunikasi politik dapat ditemukan dalam setiap lingkungan sosial, mulai dari lingkup dua orang hingga ruang kantor parlemen.

· Wikipedia: Political communication is a field of communications that is concerned with politics. Communication often influences political decisions and vice versa.
The field of political communication concern 2 main areas:
1. Election campaigns – Political communications deals with campaigning for elections.
2. Political communications is one of the Government operations. This role is usually fullfiled by the Ministry of Communications and or Information Technology.

Mochtar Pabotinggi (1993): dalam praktek proses komunikasi politik sering mengalami empat distorsi.
1. Distorsi bahasa sebagai “topeng”; ada euphemism (penghalusan kata); bahasa yang menampilkan sesuatu lain dari yang dimaksudkan atau berbeda dengan situasi sebenarnya, bisa disebut seperti diungkakan Ben Anderson (1966), “bahasa topeng”.
2. Distorsi bahasa sebagai “proyek lupa”; lupa sebagai sesuatu yang dimanipulasikan; lupa dapat diciptakan dan direncanakan bukan hanya atas satu orang, melainkan atas puluhan bahkan ratusan juta orang.”
3. Distorsi bahasa sebagai “representasi”; terjadi bila kita melukiskan sesuatu tidak sebagaimana mestinya. Contoh: gambaran buruk kaum Muslimin dan orang Arab oleh media Barat.
4. Distorsi bahasa sebagai “ideologi”. Ada dua perspektif yang cenderung menyebarkan distoris ideologi. Pertama, perspektif yang mengidentikkan kegiatan politik sebagai hak istimewa sekelompok orang –monopoli politik kelompok tertentu. Kedua, perspektif yang semata-mata menekankan tujuan tertinggi suatu sistem politik. Mereka yang menganut perspektif ini hanya menitikberatkan pada tujuan tertinggi sebuah sistem politik tanpa mempersoalkan apa yang sesungguhnya dikehendaki rakyat.

Referensi:

Dan Nimmo. Komunikasi Politik. Rosda, Bandung, 1982; Gabriel Almond The Politics of the Development Areas, 1960; Gabriel Almond and G Bingham Powell, Comparative Politics: A Developmental Approach. New Delhi, Oxford & IBH Publishing Company, 1976; Mochtar Pabottinggi, “Komunikasi Politik dan Transformasi Ilmu Politik” dalam Indonesia dan Komunikasi Politik, Maswadi Rauf dan Mappa Nasrun (eds). Jakarta, Gramedia, 1993; Jack Plano dkk., Kamus Analisa Politik, Rajawali Jakarta 1989.*

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 09/09/2009 in public relations

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.