RSS

Kerjasama Bilateral Kedutaan Besar Belanda-Indonesia pada bidang Pembangunan, Pendidikan dan Masalah Air

21 Apr

Kedutaan Besar Belanda di Jakarta dinilai oleh Kementerian Luar negeri Belanda sebagai Kedutaan Besar Belanda nomor satu di dunia, melihat kepentingannya secara menyeluruh di bidang kerja sama pembangunan, konsuler, ekonomi,  budaya dan politik. Kedutaan Besar Belanda di Jakarta juga merupakan Kedutaan besar Belanda terbesar dengan jumlah staf lebih dari 120 orang.

Hubungan dengan Indonesia di berbagai bidang diintensifkan lebih lanjut setelah kunjungan menteri Luar Negeri Belanda, Bernard Bot, ke Indenesia pada 17  Agustus tahun 2005. Ini pertama kalinya seorang pejabat pemerintah Belanda menghadiri perayaan kemerdekaan Indonesia, suatu peristiwa penting dalan hubungan yang telah berjalan dengan sangat baik antara kedua negara.

Momentum penting  lainnya adalah kunjungan Perdana Menteri Belanda ke Indonesia pada bulan april 2006. Presden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Balkenende mengeluarkan sebuah pernyataan bersama tentang kerja sama bilateral yang lebih intensif antara kedua negara.

Prioritas diberikan pada kerja sama politik, perdagangan dan investasi, pendidikan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan, stabilitas dan keamanan, keanekaragaman hayati, pembangunan yang berkelanjutan, pengelolaan air dan urusan konsuler.

1. Urusan Kerjasama  Pembangunan

Kerja sama pembangunan merupakan salah satu tugas utama Kementerian Luar Negeri Belanda dan tanggung jawab Menteri Kerja Sama Pembangunan. Tanggung jawab atas bantuan bilateral pada tingkat negara didelegasikan kepada Kedutaan Besar Belanda di luar negeri.

Kebijakan dan prioritas Global

Bantuan Belanda per tahun mencapai hampir lima miliar Euro untuk pemberantasan kemiskinan global dan Belanda merupakan salah satu dari sedikit negara yang bersedia untuk memberi 0,8% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) untuk kerja sama pembangunan global; 0,1% lebih tinggi dari ketetapan norma PBB sebesar 0,7%. Namun demikian permintaan publik atas hasil yang nyata semakin kuat. Hampir semua bantuan pembangunan diberikan dalam bentuk bantuan yang tidak terikat. Tujuan utama bantuan kerja sama pembangunan Belanda adalah pemberantasan kemiskinan secara berkelanjutan. Menurut Belanda jalan yang terbaik untuk mencapai ini adalah mendukung Tujuan Pembangunan Milenium atau Millennium Development Goals (MDGs). Pemberantasan kemiskinan secara berkelanjutan hanya dapat dilakukan apabila penyebab kemiskinan yang demikian luas namun saling berhubungan itu ditangani secara bersamaan.

Pada Oktober tahun 2007, Menteri Kerja Sama Pembangunan, Bert Koenders, mengeluarkan dokumen kebijakan Een zaak van iedereen: investeren in ontwikkkeling in een veranderende wereld (Urusan setiap orang; investasi dalam perkembangan di dunia yang sedang berubah) dengan tujuan untuk menggambarkan pilihan pemerintah Belanda untuk mendukung realisasi  Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs).

Menteri Kerja Sama Pembangunan mengumumkan intensifikasi kebijakan di empat bidang:

a. Perdamaian dan keamanan

b. Pertumbuhan dan pembagian

c. Hak yang sama dan peluang bagi kaum perempuan

d. Lingkungan hidup dan energi

Belanda menjalin hubungan kerja sama pembangunan bilateral yang struktural dengan 36 negara, antara lain Indonesia. Karena adanya perbedaan dalam masalah-masalah pembangunan dan kualitas pemerintahan untuk memilih penanganan yang sama, maka Belanda menerapkan tiga profil negara. Di tingkat negara dan dalam profil-profil diterapkan hasil kerja yang sesuai dengan prioritas yang realistis.

Atas dasar ini diperlukan perundingan dengan mitra negara dan donor-donor lain secara intensif untuk meningkatkan bantuan secara efektif (Paris Agenda dan Ghana Action Plan).

Program Prioritas di Indonesia

Kedutaan Besar Belanda telah menyusun sebuah Rencana Strategis Jangka Panjang (RSJP) untuk periode 2008 – 2011. Tujuan adalah memperkuat dan memperluas hubungan bilateral yang luas antara Belanda dan Indonesia. Belanda menjalankan proses ini dengan nota kebijakan Indonesia tertanggal 13 Juni 2006 dan ‘Perjanjian Kemitraan Komprehensif’ yang diparaf oleh Menteri Verhagen dan Menteri Wirajuda (Kementrian Luar Negeri Belanda dan Indonesia) pada 14 Januari 2009.

Rencana Strategis Jangka Panjang (RSJP) bertujuan untuk mencapai 4 hasil  strategis berikut ini:

  1. Perbaikan demokrasi, stabilitas, hak asasi manusia dan tata pemerintahan untuk mencapai suatu masyarakat yang adil dan aman;
  2. Perbaikan tata kelola ekonomi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan pembagian dari pertumbuhan ini secara merata untuk seluruh masyarakat, sehingga angka kemiskinan semakin cepat berkurang;
  3. Perbaikan kebijakan lingkungan dan iklim serta pelaksanaannya untuk meningkatkan pemakaian energi terbarui (renewable energy);
  4. Hubungan bilateral yang intensif lewat ‘kerangka kerja kemitraan komprehensif’.

Sehubungan dengan itu, Kedutaan Besar Belanda membantu program-program di bidang tata pemerintahan yang baik, iklim investasi, pendidikan, pengelolaan air, air minum dan sanitasi, lingkungan hidup (berfokus pada tanah gambut) dan energi yang berkelanjutan. Aspek-aspek gender telah terpadu dalam program-program ini. Program ini mencakup seluruh Indonesia, tetapi berfokus pada beberapa daerah (Aceh, Papua, Maluku dan Kalimantan).

Sebagian besar dana Belanda ditujukan untuk program-program pemerintah Indonesia dan juga dilaksanakan oleh pemerintah. Dana ini terutama disalurkan melalui multi-donor funds atau badan-badan multilateral, yang bertanggung jawab atas pengawasan, pemantauan dan koordinasi. Oleh karena itu, dana dari Belanda tidak digunakan untuk membiayai proyek-proyek yang berdiri sendiri atau perorangan, tetapi dipadukan dalam kebijakan Indonesia untuk sektor terkait dan dalam pendanaan multilateral. Cara tersebut dipilih dengan tujuan agar bantuan Belanda dan upayanya akan menjadi lebih efektif dan berkesinambungan.

bantuan-per-sektor-pembangunan-kedutaan-belanda

Kemitraan

Mitra utama adalah pemerintah Indonesia. Selain Belanda, ada sejumlah mitra Uni Eropa aktif di Indonesia. Di samping itu Bank Dunia, Asian Development Bank, Jepang, Australia dan Amerika Serikat memberikan sumbangan substansial dalam bentuk pinjaman dan dana bantuan. Pada umumnya, kerja sama di antara donor berjalan dengan sangat baik dan kerja sama ini akan lebih dituntun oleh pemerintah Indonesia, yang merupakan pelaksanaan dari Jakarta Commitment.

Dalam rangka memperluas hubungan, Kedutaan Besar Belanda meminta partisipasi aktif departemen-departemen di Belanda dan mitra baru untuk memperkuat kerja sama. Dalam hal itu, hubungan ekonomi menjadi semakin penting.

2. Pendidikan

Pemerintah Belanda mendukung Indonesia dalam usahanya memperbaiki akses dan kualitas pendidikan, dengan demikian membantu dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) dan Pendidikan bagi Semua (EFA) di Indonesia.

Pendidikan Dasar

Pemerintah Indonesia memberikan prioritas utama untuk perbaikan kualitas sistem pendidikannya. Ini, antara lain, dicerminkan dalam peningkatan anggaran tahunannya yang besar untuk sektor pendidikan. Pada tahun 2009, 21% dari anggaran nasional disisihkan untuk pendidikan. Tujuan, prioritas dan strategi pendidikan disusun dalam Rencana Strategis Pendidikan Nasional 2005-2009 (RENSTRA), yang disetujui oleh Parlemen.

Dari RENSTRA tampak jelas bahwa dana tambahan luar negeri yang signifikan diharapkan untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Oleh karena itu, sejak tahun 2006, bantuan pemerintah Belanda untuk pendidikan dasar meningkat dan meluas jangkauannya. Saat ini, pemerintah Belanda mendukung program-program pendidikan di Indonesia sebagai berikut:

a. Decentralized Basic Education Project, melalui Bank Pembangunan Asia di mulai pada tahun 2006. Dana Belanda untuk program ini adalah 23 juta Euro yang memungkinkan program ini memperluas pada enam kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

b. Kerjasama dengan International Labour Organization (ILO), pemerintah Belanda dengan dana sebesar 18.8 juta Euro mendukung program perbaikan dan perluasan pendidikan kejuruan dan teknik di enam provinsi di Indonesia Timur.

c. Dengan sumbangan sebesar 21 juta Euro, yang disalurkan melalui Bank Dunia, pemerintah Belanda mendukung Program Pendidikan dan Perkembangan Usia Dini, yang bermaksud untuk memperbaiki perkembangan anak-anak dari keluarga tidak mampu dan kesiapannya untuk memasuki pendidikan yang lebih lanjut.

d. Sejak akhir tahun 2006, Program Dana Perwalian Pendidikan Dasar dari pemerintah Belanda sebesar 24 juta Euro, yang dilaksanakan melalui Bank Dunia, mendukung kegiatan-kegiatan persiapan kebijakan (melalui kajian, percontohan dan tinjauan) di bidang manajemen guru, pemberian sertifikasi, ITK, pendidikan umum dan kejuruan, monitoring dan evaluasi program-program pemerintah, termasuk program BOS untuk bantuan keuangan langsung kepada sekolah-sekolah.

e. Program Dana Perwalian Kapasitas Pendidikan Dasar didanai bersama-sama oleh Komisi Eropa dan pemerintah Belanda, dengan dana masing-masing sebesar 22 juta Euro, dan dijalankan oleh Bank Dunia. Program ini bermaksud memperkuat kapasitas pemerintah (Daerah) di bidang perbaikan pemerintahan yang transparan dan bertanggungjawab, dan di bidang informasi sektor pendidikan.

f. sumbangan dana sebesar 42 juta Euro, pemerintah Belanda bersama dengan Bank Dunia, mendukung program nasional untuk memperbaiki kualitas dan kinerja keseluruhan dari para guru di Indonesia melalui peningkatan pengetahuan guru dan mata pelajaran serta ketrampilan pedagogis di ruang kelas.

g. Melalui UNICEF, Pemerintah Belanda mendukung program Pendidikan Pencegahan dan Perawatan HIV/ AIDS , yang bermaksud meningkatkan kesadaran kaum muda dan remaja di Papua. Bantuan pemerintah Belanda untuk program ini adalah sebesar 3.8 juta Euro.

h. Di Indonesia, pemerintah Belanda berperan aktif dalam koordinasi dan harmonisasi intervensi donor di sektor pendidikan. Adanya konsultasi yang seksama antara lembaga kementerian dan para donor tentang bidang-bidang yang mana yang mendapat perhatian khusus dari negara-negara donor sehingga menjadi efektif dan efisien

Pendidikan Tinggi

Kerjasama di bidang pendidikan tinggi dan ilmu pengetahuan dibangun diatas hubungan kerjasama yang sangat mengakar antara Belanda dan Indonesia. Ada banyak hubungan kelembagaan di antara perguruan tinggi Belanda dan Indonesia, dan ada juga sejumlah program yang menfasilitasi hubungan ini.

Program Ilmu Pengetahuan Indonesia Belanda (Scientific Programme Indonesia – The Netherlands, SPIN) dikelola oleh Royal Netherlands Academy of Arts and Science (Externe link KNAW) di Belanda, tugas Kedutaan Besar adalah untuk menfasilitasinya. Selain itu, ada kegiatan-kegiatan penelitian akademis yang sedang berjalan, yang mana dipihak Belanda dikoordinasi oleh Externe link WOTRO/NWO.

Externe link Netherlands Education Support Office (NESO) berfungsi sebagai pusat informasi tentang pendidikan tinggi di Belanda dan Indonesia; menfasilitasi pertukaran program-program dan mengkordinasi program-program beasiswa dari pemerintah Belanda. Program beasiswa StuNed dimulai pada tahun 2000. Program ini, dimana sejumlah dana sebesear 30.8 Euro disediakan untuk periode 2006-20011, bertujuan menawarkan beasiswa untuk para profesional yaitu: pejabat pemerintah, staf universitas-universitas dan organisasi-organisasi swasta, termasuk LSM, untuk mengikuti program Master, short courses atau pelatihan-pelatihan di Negeri Belanda yang diberikan dalam bahasa Inggris.

Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh akan disebarkan untuk kepentingan perkembangan sosial-ekonomi Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut tentang program beasiswa StuNed dan program belajar di Belanda lainnya, serta untuk kerjasama akademis, silahkan menghubungi situs web dari Externe link NESO.

NESO juga mengorganisir acara tahunan Netherlands Higher Education Fair (HEF) di mana perguruan tinggi Belanda mempresenstasikan program-program mereka.

Pada tahun 2005, program Kerjasama Kelembagaan Pendidikan Tinggi (NPT) dimulai. Program ini bermaksud untuk memperkuat kapasitas lembaga Pendidikan Tinggi, seperti perguruan tinggi dan politeknik. Program ini dikelola oleh Organisasi Belanda untuk Kerjasama Internasional di bidang Pendidikan Tinggi (NUFFIC) di Den Haag. Kedutaan Besar menjalin hubungan yang erat dengan Nuffic dan Departemen Pendidikan Nasional (DEPDIKNAS) Republik Indonesia dalam menjalankan program NPT.

Selanjutnya, Kedutaan Besar Belanda memberikan bantuan untuk program pelatihan multi-tahun bagi para intelectual Islam untuk belajar di Negeri Belanda dengan program: “Training Indonesia’s Young Leaders: Cendekiawan Muslim sebagai Agen Perubahan” dengan dana sumbangan sebesar 2.9 juta Euro. Program ini dijalankan atas kerjasama yang erat antara Departemen Agama (DEPAG) Republik Indonesia dan Universitas Leiden di Belanda. Program ini menawarkan beasiswa untuk program Master, PhD dan pendidikan Pasca-Doc.

Di bidang pendidikan tinggi, pemerintah Belanda juga mendukung program Kerjasama antara Lembaga Internasional Microsoft Word document programme for Cooperation between International Institutions (SII) untuk Kerjasama Selatan-Selatan (South-South Cooperation). Program ini dikelola oleh Direktorat Kerjasama Kebudayaan, Pendidikan dan Penelitian Kementerian Luar Negeri Belanda di Den Haag

Bantuan untuk Indonesia  di sektor Air

Bagi Belanda, air—baik air laut maupun aliran sungai—adalah sahabat sekaligus musuh bebuyutan. Sebagai sahabat, aliran air telah membantu membawa pasir sedimen dari hulu sungai jauh di pedalaman Eropa sehingga delta di muara sungai tersebut membentuk  Nederland —istilah yang digunakan bangsa Jerman untuk Belanda—yang bermakna negeri yang terletak di dataran rendah.

Air juga telah membantu Belanda dari serangan dari luar. Dalam paruh-kedua abad ke-16 hingga paruh-pertama abad ke-17 M, pecah perang antara Belanda yang Protestan dan Spanyol yang Katholik. Konflik itu juga dikenal sebagai ‘Perang 80 Tahun’ (Tachtigjarige Oorlog).

Di awal perang tersebut, tahun 1573 Belanda membuka pintu-pintu air sehingga terjadi banjir yang mematahkan pengepungan kota Alkmaar oleh pasukan Spanyol. Tahun 1574, taktik banjir-yang-disengaja ini juga mencegah pengepungan kota Gorinchem yang dua tahun sebelumnya menyatakan berpihak pada Prins van Oranje—pendiri Dinasti Oranje yang hingga kini masih menjadi keluarga kerajaan di Belanda. Dalam tahun yang sama, milisi Oranje membebaskan kota Leiden dari pendudukan Spanyol setelah merendam bagian yang rendah dari kota itu sehingga bisa dilalui kapal-kapal kecil (geuzen) berisi pasukan Belanda mendekati benteng pertahanan Spanyol.

Tahun 1629 Pangeran Frederik Henderik memulai proyek yang menggunakan lahan yang sewaktu-waktu bisa digenang banjir kalau ada serangan musuh. Garis-pertahanan tersebut mulai dari Zuiderzee di selatan hingga ke Sungai Merwede di Gorinchem. Sistem ini berhasil membendung invasi pertama pasukan Prancis tahun 1672.

Sebagai sahabat, air juga memiliki makna ekonomis yang sangat signifikan bagi Belanda. Pelayaran-darat (inland-waters) pada umumnya bisa dilayari kapal-kapal ponton mengangkut berbagai komoditas. Sebagain suplai barang menuju pelabuhan kedua terbesar di dunia, Rotterdam juga tergantung dari pelayaran-darat ini. Dan tidak pula aneh kalau ada kapal berukuran ribuan ton melewati kanal yang terletak lebih tinggi daripada atap rumah-rumah penduduk kiri-kanan kanal.

Kedutaan Besar Belanda  memerikan bantuan   / berpartisipasi  pada kegiatan-kegiatan  di  sektor air  di Indonesia, yang mempunyai  tujuan sebagai berikut :

  1. untuk membantu proses pengelolaan sumber daya air terpadu dalam rangka reformasi sektor air yang mulai diterapkan pada tahun 2004 dan
  2. untuk membantu mencapai Tujuan Pembangunan Milenium di bidang persediaan air dan sanitasi (MDG7).

Total anggaran berjumlah 15 juta Euro per tahun. Bantuan dari Belanda ini ditekankan pada bantuan teknis..Biaya untuk kegiatan infrastruktural didanai oleh pemerintah Indonesia antara lain lewat pinjaman dari Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB).

Untuk membantu proses rekonstruksi di Aceh dan Nias setelah tsunami pada tanggal 26 Desember 2004, Belanda terlibat aktif dalam berbagai program sektor air di daerah-daerah yang terkena bencana. Untuk informasi lebih lanjut tentang program-program ini, silahkan lihat Tsunami File.

Sumber Daya Air

Pada tahun 2002, pemerintah Indonesia mulai melaksanakan reformasi sektor lewat dan ini menghasilkan perumusan undang-undang dan dokumen kebijakan termasuk Peraturan Pemerintah dan Undang-Undang 7/2004 tentang Sumber Daya Air. Sejumlah peraturan pemerintah tentang topik-topik seperti sungai, air tanah, sumber daya air dan irigasi telah dibuat, sedangkan lainnya masih dalam tahap persiapan.

Dari tahun 2001 hingga 2005, Belanda mendanai Program Pelaksanaan Reformasi Sumber Daya Air dan Irigasi Indonesia atau Water Resources and Irrigation Reform Implementation Programme (IWIRIP). IWIRIP meningkatkan keterlibatan para petani dan para peminat lainnya di bidang pengelolaan sumber daya air, yang menghasilkan pemeliharaan yang lebih bermutu dengan biaya rendah.

Pengalaman IWIRIP digunakan untuk perumusan bersama dua program sektor yang dijalankan oleh pemerintah Indonesia, yaitu Proyek Sektor Irigasi Partisipatif atau Participatory Irrigation Sector Project (PISP) yang didanai oleh ADB dan Belanda serta Program Pengelolaan Sektor Sumber Daya Air dan Irigasi atau Water Resources and Irrigation Sector Management Programme (WISMP), yang didanai oleh Bank Dunia dan Belanda.

Kedua program ini dimulai pada tahun 2004 dan mendukung pelaksanaan pengelolaan irigasi partisipatif lewat peningkatan pemerintah setempat, organisasi daerah aliran sungai dan Kelompok Pemakai Air. Pada akhirnya, PSP dan WISMP akan melaksanakan irigasi partisipatif dan memperbaiki sistem irigasi yang sudah ada yang mencakup wilayah seluas 725.000 ha di 60 kabupaten di 20 propinsi. Tujuannya adalah meningkatkan pendapatan para petani dan memperbaiki posisi mereka lewat keuntungan investasi serta pembagian air secara rata dan efisien.

Komponen utama proyek WISMP berfokus pada perbaikan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS). UU baru tentang sumber daya air (UU7/2004) menetapkan bahwa pengelolaan sumber daya air di Indonesia harus dilaksanakan berdasarkan DAS, dengan menggunakan prinsip-prinsip pengelolaan sumber daya air terpadu (satu DAS, satu rencana, satu pengelolaan terpadu). WISMP mendukung pembentukan Balai Sumber Daya Air dan Dewan Sumber Daya Air

Sebuah MoU empat pihak atau juga dikenal dengan 4-p MoU telah ditanda tangani antara Departemen Pekerjaan Umum, Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia serta Kementerian Kesehatan Masyarakat, Tata Ruang dan Lingkungan dan Kementerian Lalu Lintas dan Perairan Belanda yang bertujuan untuk mengintensifkan kerja sama antara keempat kementerian ini di sektor air.

Salah satu kegiatan telah dilaksanakan adalah pilot baggerproject di Jakarta dimana keterlibatan Kedutaan Belanda dinilai cukup besar. Dalam rangka kerja 4-pMoU ini, sejumlah kegiatan menarik telah dikembangkan yang terutama harus dapat mendukung pembangunan kebijakan dalam komponen-komponen dalam sektor air.

Persediaan Air dan Sanitasi

Pada tahun 2004, Belanda dan Indonesia sepakat untuk memperluas kegiatan kerja sama pembangunan di bidang Persediaan Air dan Sanitasi. Program Air dan Sanitas Indonesia (WASAP) untuk pengembangan kapasitas sektor air dan pengembangan sektor sanitasi merupakan kegiataan pertama Kedutaan di sektor ini. WASAP dibentuk lewat Trust Fund Bank Dunia Jakarta dan mempunyai anggaran sebesar 25 juta Euro untuk 2005-2011. WASAP adalah suatu bentuk Trust Fund yang mendukung kegiatan-kegiatan di sektor air yang berkaitan dengan pengembangan kebijakan dan pengembangan kapasitas.

Kegiatan-kegiatan ini dilaksanakan sebagai sub-program. Sub-program yang aktif saat ini adalah:

  1. Bantuan umum dan layanan informasi.
  2. Program pengembangan kapasitas untuk persediaan air: pengembangan kapasitas dan pengembangan kelembagaan perusahaan air merupakan elemen penting. Program ini dilaksanakan oleh Bank Dunia.
  3. Proyek Pengembangan Sektor Sanitasi Indonesia (ISSDP): pengembangan kebijakan nasional dan strategi untuk sanitasi, yang menghasilkan Rencana Tindak Sanitasi Nasional. Program ini dikelola oleh Program Air dan Sanitasi (WSP);
  4. Percontohan kota sanitasi. Proyek percontohan di bidang sanitasi di daerah perkotaan; memberikan masukan kepada ISSDP;
  5. Pengembangan elemen dalam sistem pengawasan di sektor air minum dan sanitasi.
  6. Pengelolaan Sumber Daya Air: asistensi spesifik seperti partisipasi masyrakat, dampak perubahan cuaca, tata ruang.
  7. Persediaan Air dan Sanitasi Aceh-Nias: kerja sama antara perusahaan air di Banda Aceh dan Aceh Besar.
  8. Kajian untuk opsi pendanaan bagi pemerintah setempat di bidang air dan sanitasi.
  9. Asistensi pengeolaan sumber daya air di DKI Jakarta.

Kedutaan Belanda juga mendukung pembentukan Fasilitas Partisipasi Sektor Swasta untuk Infrastruktur Kota atau Private Sector Participation Development Facility for Urban Infrastructure (PSPDF), yang berada di bawah naungan Bappenas dan didanai oleh ADB, pemerintah Indonesia dan Belanda. Jumlah bantuan Belanda adalah 7,5 juta Dolar AS hingga 2011.

Pemerintah Belanda turut mendukung Kemitraan Publik-Swasta atau Public-Private Partnerships (PPP’s).  Untuk sektor air, bantuan diberikan kepada PPP’s di Pekanbaru (Riau) dan Indonesia Timur (Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara dan Papua). Secara total hasil PPP’s ini akan memberikan akses kepada 3 juta orang untuk memperoleh air minum. Kedutaan Belanda berencana untuk memberikan bantuan tambahan untuk kegiatan-kegiatan di Indonesia Timur hingga 2010.

Bersama UNICEF telah disepakati perjanjian sebesar 14 juta Dolar AS dari pihak Kedutaan Belanda dan 5 juta Dolar AS dari SIDA (sebagai mitra pasif Belanda) untuk pendanaan program Air dan Sanitasi Lingkungan atau Water and Environmental Sanitation (WES) di Indonesia Timur. Di enam propinsi akan dikembangkan persediaan air minum dan sanitasi di 25 kabupaten dan 5 kota dengan tekanan pada daerah-daerah tertinggal di kota-kota. Secara total akan ada 320.000 orang yang dapat menikmati air minum dan mereka akan hidup lebih sehat hingga 2010.

Pemerintah Pekanbaru diberikan bantuan oleh PT Royal Haskoning untuk mengembangkan sebuah rencana induk untuk sanitasi (air limbah, sampah dan saluran pembuangan kota). Bantuan ini secara total berjumlah sekitar 1,1 juta Euro dan kegiatan ini akan berjalan mulai 2009.

Bersama DfiD (Inggris), Cida (Kanada) dan ADB, Kedutaan mendanai Proyek Pelayanan Air Bersih dan Kesehatan Masyarakat atau Community Water Supply and Health Program (CWSHP). Kegiatan ini berfokus pada sanitasi dan sarana air minum di sejumlah kabupaten di propinsi Aceh: secara total akan dikembangan persediaan air minum dan sanitasi di 400 desa.

Bantuan Belanda berjumlah 5 juta Dolar AS dan proyek ini akan berjalan hingga 2009. Bantuan sebesar 6,2 juta Euro untuk Proyek Sabsas di Aceh dan Nias akan dipergunakan untuk perbaikan sarana air setelah tsunami dan selanjutnya perluasannya. Sabsas telah memberikan akses kepada 30.000 rumah tangga untuk memperoleh air minum. Di samping itu, di beberapa kota dijalankan kegiatan untuk memperbaiki fasilitas sanitasi. Kerja sama antara perusahaan air Belanda dan puluhan perusahaaan air di propinsi Aceh telah dibahas dan rencananya adalah bahwa kerja sama ini akan dijalankan mulai tahun 2009.

Sources :

http://www.mfa.nl/jak-id/urusan_kerjasam…

http://gunaryadi.blogsome.com

Booklet Kedutaan Belanda Indonesia

Negeri Belanda Selayang Pandang, milik pribadi

Postingan ini diikutsertakan untuk kompetiblog2010.studidibelanda.com, dan bisa  dibaca selengkapnya  di http://galuhkh.blogdetik.com/

About these ads
 
3 Komentar

Posted by pada 21/04/2010 in galz on the news, opini saya

 

3 responses to “Kerjasama Bilateral Kedutaan Besar Belanda-Indonesia pada bidang Pembangunan, Pendidikan dan Masalah Air

  1. Billy Koesoemadinata

    21/04/2010 at 7:02 AM

    wah.. ternyata banyak bener ya kerjasama Belanda dan Indonesia..

     
  2. galz25

    21/04/2010 at 9:20 AM

    iya mas billy….. banyak banget bantuan dan kerjasama yg mereka berikan buat Indonesia, apalagi masalah air dan pendidikan.

    kalo mslh pendidikan, Kedutaan Belanda sering banget kasih bantuan beasiswa. trus mereka punya Erasmus Huis, buat pelajar2 Indonesia yg mau belajar bhs belanda. aku sudah merasakan di erasmus itu enak banget hehehe apalagi library nya

     
  3. Iiman J-Rockk

    18/02/2012 at 1:49 PM

    belanda memang baik… ….

    :)

     

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: