RSS

Patung Hermes, dari Jembatan Harmoni ke MSJ

28 Mei
Inilah Patung Hermes yang asli yang berada di halaman belakang Museum Sejarah Jakarta (MSJ). Patung ini semula berada di Jembatan Harmoni tetapi demi alasan keamanan sejak tahun 1999 patung ini dipindah ke MSJ.

Inilah Patung Hermes yang asli yang berada di halaman belakang Museum Sejarah Jakarta (MSJ). Patung ini semula berada di Jembatan Harmoni tetapi demi alasan keamanan sejak tahun 1999 patung ini dipindah ke MSJ.

Jika Anda masuk ke Museum Sejarah Jakarta (MSJ) dan langsung menuju halaman belakang, ada patung yang langsung menyambut. Patung itu baru sekitar sembilan tahun menghuni taman belakang museum tersebut. Melihat Patung Hermes, demikian nama patung yang akan menyambut setiap tamu di taman belakang MSJ, seperti melihat kembali ke 1999, ke hampir 10 tahun lalu.

Catatan Warta Kota menyebutkan, patung itu memang dipasang di Jembatan Harmoni, jembatan yang dibangun pada 1905. Menjadi simbol perdagangan, sebab letaknya di mulut Jalan Hayam Wuruk yang saat itu sudah merupakan daerah perdagangan yang cukup ramai.

Bagi yang tidak mengikuti kisah si Hermes, keberadaan patung ini di dalam MSJ punya kisah sendiri. Sempat hilang dari tempatnya pada Agustus 1999, patung ini akhirnya ditemukan di Kantor Dinas Pekerjaan Umum (DPU). Diselamatkan karena ternyata posisi patung itu miring ke arah kali akibat penyangganya ditabrak mobil. Daripada jatuh ke kali, maka petugas DPU menyelamatkan patung itu. Patung ini termasuk dalam benda cagar budaya yang dilindungi Pemprov DKI.

Arkeolog dari Universitas Indonesia Hasan Djafar kala itu menjelaskan, patung Hermes merupakan salah satu saksi sejarah berdirinya Kota Jakarta. Berasal dari antara abad 18 dan 19, patung ini dipercaya sebagai sebagai patung keberuntungan. Patung asli terbuat dari perunggu seberat 70 kg dan 10 tahun lalu berharga sekitar Rp 1 miliar di pasar Singapura.

Karena harga yang selangit itu, maka Gubernur DKI Jakarta pada waktu itu, Sutiyoso, memutuskan untuk menempatkan patung Hermes asli di MSJ dan membuat replika untuk dipasang di Jembatan Harmoni. Jadi patung Hermes di Jembatan Harmoni kini adalah replika yang dibikin oleh seniman patung asal Yogyakarta, Arsono. Biaya replika patung seberat 100 kg itu Rp 150 juta.

Harusnya, patung Hermes ada dua. Di Jembatan Harmoni dan di dekat Masjid Istiqlal yang menghadap Gereja Katedral. Tapi di tahun 1970-an patung ini hilang tak berbekas. Soal patung bersejarah yang lenyap, di tahun 1950-an sudah terjadi. Malah ukuran patung yang hilang ini jauh lebih besar. Patung Jan Pieterszoon Coen di Lapangan Banteng itu seukuran manusia, terbuat dari perunggu dan punya kembaran di kota Hoorn, Belanda, kota kelahiran Coen.

Soal hilang, menghilangkan, melenyapkan, membongkar semua yang berbau masa lampau sudah terjadi sejak lama. Pembangunan Jakarta mengorbankan begitu banyak saksi sejarah dalam bentuk fisik.

Pemahaman para pengambil keputusan dan pemilik modal akan pentingnya sejarah demi kota itu sendiri beserta generasi mendatang yang tinggal di dalamnya belum merata – kalau tidak bisa dibilang tak ada – sehingga orang tak perlu lagi heran jika Jakarta di usia ke 500 nanti menjadi Jakarta yang “kosong”. Yang kehilangan jiwa dan roh dari kota itu sendiri.

About these ads
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 28/05/2009 in historia museuma, Plesiran

 

2 responses to “Patung Hermes, dari Jembatan Harmoni ke MSJ

  1. tienra

    28/05/2009 at 3:10 PM

    hey, tukeran lnk yuk?

     
  2. ★ ardian trimurti (@ardianzzz)

    08/10/2011 at 10:43 AM

    Wah, 1M! ternyata mangstabh bener tuh patung ya…

     

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: