title : Yuk! Belanja Batik Murah di Mal Batik
summary : Bagi anda penggemar batik, tak ada salahnya mencoba berburu batik di Thamrin City, Jakarta. Disini tersedia berbagai macam batik dari berbagai daerah di Indonesia. Harganya pun cukup miring. (read more)
detikcom : Yuk! Belanja Batik Murah di Mal Batik
Forum Pembaca Kompas – UANG
Gara-gara uanglah seorang anak dicaci maki oleh ayahnya. Sang anak bukan saya. Ini sebuah cerita benar terjadi. Si anak berprinsip uang bukan segalanya, sang ayah malah berprinsip uang itu adalah segala-galanya. Suatu hari sang anak kekurangan uang, ia meminta pertolongan kepada sang ayah. Maka perkataan inilah yang terdengar di telinga si anak. “Makanya percaya sama orangtua, Uang itu segalanya. Lihat… butuh uang juga kan elo.”
Gara-gara perkataan itu, ia membenci ayahnya. Prinsipnya uang bukan segalanya itu tak berarti uang itu tak penting. Buktinya ia mengalami betapa pentingnya harus punya uang dan betapa sengsaranya tak punya uang, sampai harus mengemis dan mempertaruhkan segala prinsip dan mungkin harga diri. Prinsip yang berbeda itu membuat perselisihan bertahun lamanya.
Cerita itu membuat saya mengerti mengapa ada kasus ayah membunuh anak atau sebaliknya atau pegawai membunuh atasannya, kakak berkelahi dengan adik hanya gara-gara yang satu ini. Atau yang dahulu baik-baik kemudian menjadi tidak baik-baik. Yang dahulu rendah hati dan rendah diri, bisa menjadi tinggi hati dan tinggi diri. Itu juga mengapa ada perselingkuhan dan ketidaksetiaan dalam bentuk lain.
Bahagia dan tidak bingung
Saya dahulu berprinsip seperti cerita sang ayah gara-gara ayah saya yang kikir. Suatu hari saya harus punya uang banyak sekali sehingga saya bisa bebas tak bergantung pada siapa pun. Bahasa Inggrisnya—semoga kali ini saya tak keliru menulis—saya ingin memiliki financial freedom.
Dan keinginan itu makin menjadi-jadi kalau membaca majalah dan bergaul di dunia nyata. Melihat manusia muda belia sudah punya lukisan supermahal, memiliki rumah dua belas ribu meter persegi, dan disebut sebagai salah satu manusia terkaya di jagat raya ini. Itu mengapa saya setuju sekali dengan prinsip sang ayah, uang adalah segalanya.
Bagaimana tidak? Bayangkan kalau saya punya uang boanyak, saya bisa memerintahkan sebuah negeri untuk menurunkan atau menaikkan salah satu menterinya, bahkan presidennya, karena dengan uang boanyak itu, saya bisa mengatur hidup orang. Mengapa? Karena orang berutang pada saya, si kaya raya itu. Dan uang pengembaliannya dibayar separuh saja, sisa separuhnya untuk saya mendapat fasilitas menurunkan atau menaikkan manusia-manusia yang saya ingin turun atau naikkan.
Kalau saya dipenjara, misalnya, uang adalah segalanya. Tak usah percaya dengan saya, Anda pasti sudah membaca liputan sejuta media mengenai kehidupan di hotel prodeo belakangan ini, bukan? Kok dipenjara sepuluh tahun, seumur hidup saja tak jadi masalah. Lha wong bisa keluar-masuk hanya gara-gara uang dan mengatur bisnis dari dalam penjara dan bertambah kaya di dalam penjara.
Uanglah yang menyebabkan saya iri mengapa saya tidak dianggap oleh salah satu wong sugih di Nusantara ini, hanya karena saya berprofesi kuli tinta yang memang pendapatannya yaaa… gitu deh. Gitu deh sengsaranya, maksudnya. Kalau di dalam pesta, ia hanya menyalami tanpa banyak bacot tanpa menatap mata saya. Tapi berbeda halnya kalau menyalami teman saya yang memang kaya raya. Ia pasti menepuk bahu teman saya itu sambil berkata keras tanpa perlu toak. ” Ini loh anaknya (dia menyebut silsilah keluarga teman saya itu)…. Wah…. muda-muda kaya raya… kalian mesti kenal orang ini… orang huebat.”
Makin bahagia dan jadi bingung
Seorang pribadi kondang di negeri ini sudah menasihati saya dari sejak awal tak ada gunanya mencintai dunia kuli itu. “Ndang cepet nggolek gawean liyo. Ra bakal mundak sugih kowe.” (Cepat-cepat cari pekerjaan lain. Tak bakal bertambah kaya kamu). Ia kemudian melanjutkan begini. “Sebutannya saja sudah kuli. Bagaimana mau kaya raya. Ka-u-el-i. Kuli. Kalau ka-a-ye-a…. kaya. Bedo, no?”
Terus saya juga mendapat nasihat dari teman saya kalau uang itu bukan segalanya, seperti pendapat si anak tadi. Saya tak mengerti mengenai nasihat itu. Ia kemudian mengatakan, kebahagiaan itu tak hanya punya uang.
Saya makin tak mengerti karena saya membayangkan kalau saya punya uang, saya sangat bahagia. Waktu itu saya berpikir, apa, ya, mungkin saja istilah itu ada karena yang menciptakan pandangan itu memang enggak pernah kaya dan sudah dicoba beberapa kali, ya, tetap enggak kaya. Jadi mencari sudut pandang yang kelihatan mulia, tapi sesungguhnya tak benar-benar amat. Itu pikiran saya saja.
Karena setelah melihat orang yang tak punya uang sekalipun, perselingkuhan juga terjadi, pembunuhan dan kebahagiaan juga dialami, sama saja dengan orang yang superkaya. Jadi saya bingung sampai sekarang dengan kalimat uang tak bisa membeli kebahagiaan. Ia pastinya bisa. Bisa beli tas bermerek, terus bahagia. Bisa beli koleksi lukisan termahal di dunia dan bahagia. Bisa membunuh pesaing, yaa… bahagia. Perkawinan yaa bisa bahagia.
Perselingkuhan dalam perkawinan? Lha wong sopir saya di kantor lama yang gajinya sebelas dua belas sama saya saja istrinya satu, selingkuhannya tiga. Satu sopir lagi malah menghamili anak pejabat dan mereka saling cinta dan si anak pejabat tak keberatan jadi istri kedua. Dengan memiliki banyak uang, saya bisa berbakti membantu korban gempa sampai membiayai pendidikan anak cacat dan yang waras sekalipun.
Saya pernah dinasihati lagi, katanya akar dari segala kejahatan itu adalah cinta uang. Saya tambah bingung lagi. Dengan IQ, SQ, EQ saya yang lumayan, lumayan datar maksudnya, maka cinta uang tak akan jadi masalah. Karena tanpa mencintai uang yang kita miliki, maka investasi tak akan pernah terjadi. Royal adalah bentuk tidak mencintai uang. Karena cintalah saya mengembangkan uang menjadi lebih banyak, dengan demikian saya bisa paling tidak membantu menyejahterakan orang lain.
Kalau kemudian manusianya yang mencintai uang itu jadi kemaruk, sombong, dan jadi anak buah setan, maka yang salah bukan cinta uangnya, otaknya saja yang enggak beres. Karena seperti cinta, uang itu punya sengat. Masalahnya mau disengat atau tidak? Ya… tak beda banyak dengan cinta. Mau dibuat buta, apa memilih yang menginjak bumi?
Cinta itu tak pernah buta, yang tak tahan menjadi buta itu manusianya. Saya jadi bingung sendiri nih. Awalnya saya berpikir artikel ini akan diakhiri dengan menyetujui pendapat si anak, kok sekarang saya malah pro bapaknya. Piye toh….
Samuel Mulia Penulis Mode dan Gaya Hidup
http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2010/01/31/ 02483298/ uang
Jadi autis gara-gara BB?? Oh No!
Mengikuti perkembangan kemajuan teknologi wajib hukumnya bagi gw, Setidaknya untuk gadget telepon seluler, tidak mau ketinggalan, selalu haus mencari sesuatu yang baru..(gawat juga ya hehehe). Apalagi gw Nokia minded, sampe CDMA gw aja tetep jatuh hati sama Nokia (sekarang sih gak, pake huwaei-esia, hikls!). Kalo sekarang ini gw lagi jatuh hati ama HP Blackberry yang udah gw pake dari Juli 2009. dari hasil keringat sendiri ho ho…Gw pake Curve 8320. Nah pas tahun baru kemarin akhirnya gw ganti Javelin 8900 karena 8320 gw “ ditodong” sodara gw untuk dibeli buat anaknya. (Btw, anaknya umur 8 tahun lho! Eleh…eleh… Jaman dulu kala ketika gw umur segini, boro-boro HP, nelpon di telpon koin depan kantor Telkom aja seneng bukan kepalang)
Memang sih, gak dipungkiri, Blackberry, atau BB istilah gaulnya, saat ini sampe Januari 2010 laris bak kacang goring. Terbukti waktu gw beli BB di Bandung, daerah Dago (Dukomsel), ya ampun itu yang namanya toko HP penuh pisan, dan penuhnya cuma di gerai BB aja. Gerai Nokia, Samsung, Motorola dan HP lainnya lumayan sepi peminat. Mereka rela ngantri beli dan rela ngantri pula di customer service nya yang waktu itu udah nomer 40 –an sekian. Gak peduli deh berlama-lama soalnya BB udah di tangan. Dan menurut si mbak penjual BB, setelah gw investigasi sedikit, ternyata BB yang paling sering di cari BB Bold dan BB Storm. “ paling laku, mbak. Biar harganya mahal, bentuknya gede-gede dan oke banget. fiturnya banyak banget. Gambarnya keren, suaranya jernih”.
Punya BB ternyata gak enak juga karena berimbas menimbulkan julukan yang gak enak juga “ AUTIS”, ya autis. Kayak gw sekarang deh hahaha. Rasanya jempol gak mau lepas dari keyboard BB. Gak di rumah, di kantor, di kamar, di ruang TV, rasanya BB gak mau lepas dari tangan. kontak BBM dipandangin terus, dan lama mantengin layer buat fesbukan, update status, dan komen di fesbuk temen-temen. Tapi disamping itu, BB punya banyak manfaat buat gw yang kerja kantoran dan gak sempet ke warnet Cuma buka email dan mbales doing. Busettt…. Eh tapi kok gw heran ya , Banyak yang punya BB tapi buat gaya dan keren-kerenan aja, gak ngerti cara pake email, browse internet…aduhh… gw suka sebel deh kalo ada orang yang begitu. (ada contoh kasus sih, sodara gw haha) Selain gaptek percuma aja beli BB kalo Cuma buat nelpon sama BBM an. Huffffffffffffffht!
Kalo gw pake BB , alasan pertamanya biar bisa terima email kantor. Ini kudu harus wajib. Selain itu, kita juga cepet ngebales dan forward email-email kalo ada tugas atau surat-surat yang memang harus gw email dari bos gw. Gw juga bisa baca kiriman milis-milis dari majalah Femina, Cita Cinta, Buku online, dan milis lainnya. Seru banget. Yang lebih gw suka dari BB itu blackberry messenger. Atow BBM. Sepanjang apapun ngirim pesen, kayanya ga kepotong-potong tuh.
<Btw, balik ke soal julukan autis untuk pengguna BB, menurut Mas Rosgani, yang gw kutip tulisannya dari blog pribadinya di http.rosgani.blogdetik.com, “ Sekarang ini, kita udah gak aneh, jika kita melihat seorang yang menggunakan BB dengan begitu asyiknya hingga dia tidak peduli dengan keadaan sekitarnya, tidak peduli siapa yang lewat didekatnya, sekalipun mertuanya, dia benar-benar asyik dengan dunianya sendiri hingga keadaan itu kita sebut dengan istilah “Autis”, walau ini bukanlah penyakit Autis yang sebenarnya.
Namun baru-baru ini, Yayasan Autisma Indonesia (http://http://www.autisme.or.id/) merasa keberatan dengan istilah yang diberikan kepada pengguna BB yang adiktif tersebut, seakan-akan istilah “Autis” memiliki konotasi yang negatif karena itu Yayasan Autisma Indonesia pada bulan April 2009 (bersamaan dengan Bulan Peduli Autisme) menggelar konfrensi pers sehubungan dengan munculnya istilah tersebut.
Akhir-akhir ini ada kecenderungan oknum menggunakan kata-kata autis sebagai bahan olok-olok. Yang lebih menyedihkan ini dilakukan oleh public figure (artis dan pengamat politik) di Media yang ditonton/dibaca oleh jutaan orang. Pengguna BB (Blackberry) juga saat ini sering dengan entengnya menggunakan kata “autis” untuk menganalogikan keasyikan mereka. Intinya, janganlah menggunakan istilah Autis untuk mereka yang kerajingan menggunakan BlackBerry.
Kita mungkin bisa saja menyebutnya dengan istilah “BlackBerry Addict”, Kecanduan BlackBerry atau “CrackBerry” nah istilah terakhir ini banyak dipakai dan kurang lebih memiliki makna yang berbunyi “Penggunaan yang terus menerus bisa menyebabkan perangkat BlackBerry menjadi rusak” atau “crack”, karena itu orang bule sering menyebut “CrackBerry” dan menyebut “CrackBerryan” kepada orang-orang yang memiliki kecanduan BlackBerry seperti ini.
Yah, Intinya, Candu Blackberry punya dua sisi negatifnya, gw jadi keasyikan sendiri ya alias autis itu tadi. Sisi positif membantu tugas dan pekerjaan gw lebih efektif, terencana terutama untuk membalas email-email pekerjaan dan temen-temen, ngbelog, browsing internet.
Memang, teknologi tidak selamanya menjeratkan ke sisi negatif atau pekerjaan yang sia-sia belaka.
[Forum-Pembaca-KOMPAS] Kaus Garuda Pancasila Dijual “Online” di Armani Exchange
JAKARTA, KOMPAS.com — Kaus Armani bergambar Garuda Pancasila yang heboh di internet ternyata bersumber dari situs Armani Exchange (A|X), layanan penjualan online milik Giorgio Armani. Kaus tersebut saat ini ditawarkan dengan harga 29 dollar AS, diskon dari harga aslinya, 42 dollar AS.
Kaus buat laki-laki yang diberi nama A|X Studded Eagle T-shirt ini jelas menggunakan gambar Garuda Pancasila dengan kepala menghadap ke kanan, tameng di dada, dan mencengkeram pita. Namun, gambar banteng dan beringin diganti huruf A dan X sesuai nama Armani Exchange. Gambar garuda ada di bagian dada dan punggung.
Bentuknya slim fit sehingga mengikuti bentuk tubuh pemakainya. Kaus ini tersedia dalam ukuran XS hingga XXL dalam tiga warna, yakni putih, hitam, dan ungu. Selain dengan kartu kredit, kaus tersebut juga bisa dibeli menggunakan PayPal.
Munculnya kaus ini membuat heboh kalangan pengguna internet di Indonesia, Senin (25/1/2010). Bahkan, kaus tersebut menjadi topik perbincangan hangat di situs mikrobloging Twitter. Beragam komentar pun muncul, baik yang mendukung maupun yang mengecam. Terlepas dari legal atau tidakkah kaus itu, apakah Anda tertarik untuk memilikinya?
Beri bendera pesan ini [Forum-Pembaca-KOMPAS] Presiden: Lima Sumber Konflik Dunia
Jakarta, Kompas – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, sumber konflik dunia sekarang ini tidak lagi hanya seputar soal ideologi, tetapi juga soal persaingan di antara negara-negara dalam mendapatkan akses terhadap pangan, energi, dan air. Juga ketidakseimbangan ekonomi global, munculnya penyakit-penyakit menular yang baru, dan adanya perubahan iklim.
Hal itu diungkapkan Presiden Yudhoyono saat memberikan pengarahan pada Rapat Pimpinan (Rapim) TNI Tahun 2010 di Aula Gedung Gatot Soebroto di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta, Senin (25/1).
Dalam acara itu hadir Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso dan tiga Kepala Staf TNI AD, TNI AL, dan TNI AU beserta 158 perwira tinggi dari lingkungan Mabes TNI dan di lingkungan Mabes TNI AD, TNI AU, dan TNI AL.
Adapun Presiden didampingi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar, Menteri Negara Riset dan Teknologi Suharna Surapranata, serta Menteri Keuangan Sri Mulyai Indrawati.
“Sumber konflik sekarang tidak lagi seputar ideologi. Sumber konflik pada masa depan juga persaingan di antara negara-negara di dalam mendapatkan akses terhadap pangan, energi, dan air. Juga ketidakseimbangan ekonomi global, munculnya penyakit-penyakit menular yang baru, dan perubahan iklim yang kini bisa dimasukkan sebagai ancaman. Itulah yang paling tidak kita bisa sebut sebagai sumber dan jenis ancaman global. Semuanya memiliki kaitan ataupun operasi dengan keamanan dengan arti yang luas,” tandas Presiden.
Presiden mengharapkan jajaran TNI untuk terus menciptakan lingkungan dalam negeri yang kondusif untuk pembangunan, memiliki daya antisipasi strategis, dan terus meningkatkan postur. “Menghadapi ancaman global, kita harus memiliki daya antisipasi strategis, cara pandang. Dengan demikian, akan selalu bisa menghadapi tantangan-tantangan itu. Singkat kata, jangan sampai merasa tidak tahu, merasa terlambat mengetahui bahwa dunia berubah dengan segala tantangan-tantangan nya,” kata Presiden Yudhoyono lagi.
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/26/02454958/presiden.lima..sumber.konflik.dunia


























.jpg)